ASAL MULA BUTTU KABOBONG (GUNUNG N0NA)

Buttu kabobong atau gunung nona adalah gunung yang terletak di kecamatan Anggeraja kabupaten Enrekang yang memiliki bentuk unik dan eksotis. Cerita Gunung Nona ini diawali dari sebuah kerajaan di Kabupaten soppeng yang masyarakatnya makmur dan sejahtera dibawah pimpinan raja yang amat bikak.
Raja ini memiliki puteri tunggal yang cantik jelita. Kehidupan sang raja terbina dengan baiuk dan terkenal memengan erta adat istiadat di tanah Soppeng. Setelah dewasa sang puteri secara adat akan di nikahkan dengan paneran dari tanah suppa, tetpanya di kerajaan suppa. Pangeran ini adalah sahabat dari raja Soppeng. Ia satu-satunnya pewaris tahta kerajaan.
Kedua orang tua mereka sepakat untuk menikahakn anak-ankanya. Apalagi pada saat itu, aturan yang berlaku untuk pernikahan adalah aturan orang tua. Rencana ini ternyata tidak diketahui oleh sang puteru raja Soppeng, kedua orang tua mereka berkinginan untuk melangsungkan pernikahan lebih cepat.
Tak lama rencana pernikahan ini diketahui sang puteri ia bingung sendiri dengan maksud orang tuanya. Ia akan dinikahkan dengan pangeran yang sama sekali belum pernah dilihat atau dikenal.
Sebenarnya ia merasa tidak mengerti tujuan sang raja untuk menikahkannya dengan oerang yang ia tak kenal. Sang puteri merasa paham dengan proses perniakahan. Pernikahan akan di langsungkan jika keduanya telah saling mengenal satu sama lainya. Bukankah pernikah adalah sesuatu hal yang sakral?
Namun sang puteri tetap harus menjaga nama baik kerajaan. Apalagi hal itu adalah keputusan sang raja yang tak lain adalah orang tuanya sendiri. Selain itu masyarakat soppeng dan supa berannggapan adat adalah tolak ukur tinggi rrendahanya harga diri kerajaan di mata Deawa. Melaksanakan perintah orang tua/putuisan raja termaksduk menikhakan anaknya adalah adat yang tiadak boleh di tentang. Jika adat ditentang dewa akan murka dan memberikan kutukan.
Keadaan ini m,embuat sang puteri semakain terpukul ingin rasanya menjealasakan keapada raja tentang pernikahan itu. Ia tak dapat menerka bagaimana kehidupan mereaka setelah menikah. Seharunya sang raja memikirkan perasan puterinya belum lagi sang puteri merasa belum memilki pengalamaman yang cukup untuk berumha tangga.
Proses pernikahan tidak lama akan dilangsungkan. Sementera sang puteri yang terkenal cantik, cerdas dan bijak hanya merenung di kamarnya. Sesekali dengan tatapan kosong ia menatap keluar melalui jendela. Ada rasa gundah yang yang terus menghantui sang puteri tap[u dia merasa tak berdaya untuk bertindak.
Ternyata keadaan sang puteri diperhatikan sang ibu. “mengapa engkau selalu termenung dan hanya mengurung diri?” Tanya ibunya dengan lembut. “kamu adalah darah dangingku. aku tahu ada yang risaukan anakku!” lanjutnya lagi. Namum sang puteru diam memdengar pertanyaan ibunya “katakanlah ……apa masalahmu anakku?”. “mengapa saya harus di nikahkan dengan orang yang asya tidak kenala ap[alagi pilihan ayah dan ibu?”, jawab sang puteri”bukankah yang makan menjalani hidup adalah saya bukan ayah atau ibu”
Memdengar jawaban sang puteri ibunya kaget. Ternyata buah hatinya telah berpikir lebih jauh dan dewasa. Pernyataan anaknya memang benar dan hal itupun ia bicarakan dengan suaminya sebelunya namun. Mereka tak dapat berbuat banyak karena hal tersebut adalah simbol meningkatnya derajat kerajan Soppeng
Rencana pernikahan ini semakin dekat. Berita pernikahan puteri raja soppeng dengan pangeran raja suppa telah tersiar di masyarakat. Pesta direncanakan akan berlangsung slama tujuh hari tujah malam dengan berbagai jenis makan, berbagai macam hiburan rakyat. Sementara perasaan sang puteri semakin meronta
Satu hari sebelum pesta dilangsungkan, diadakan malam mappacci untuk sang puteri.Setalah proses mappacci pada malm itu, seisi istana sangat kelelahan sehingga mereka tertidur lelap. Keadaamn ini dimamfaatkan sang puteri. Ia tak sanggup menjalankan proses pernikahan sehingga ia memutuskan untuk pergi. Dengan bantuan pelayannya ia melarikan diri melalui jendela tepat sebelum ayam berkokok. Rencanaya ia akan berlari kerah utara soppeng.
Pagipun tiba, iring-iringaNdari kerajaan Suppa mulai terdengar puluhan kuda dan pariasi lainya mengiringi perjalan pangeran raja suppa menuju soppeng. Sementara di istana soppeng tengah sibuk menpersiapkan seremoni pernikah. Ada yang mengurus perlengkapan, ada yang mengurus makanan dan ada yang mengurus busana sang puteri. Ibunyapun mulai mengetuk pinti kamar sang puteri namun taka ada jawaban. Ibu memanggil pelayan istana untuk membuka pintu kamara sang p[uteri. Setelah terbuka ibunya kecewa, sosok puterinya telah menghilang.
Berita perginay sang puteri meninggalakan istana telah terseba kemana-mana raja soppeng merasa malu dan harga dirinya terinjak-injak. Apalagi penyebabnya adalah darah dangingnya sendiri. Ia berjanji tidka akan memaafkan anaknya bahkan akn membunuhnya karena dianggap telah mencoreng nama kerajaan. Sang raja memanggil semua tokoh, dukun dan prajurit kerajaan mereka ditugaskan untuk mencarai sang puteri melalui empat penjuru mata angin.
Prajurit yang mencari kearah utara menemukan sang puteri tapi sang puteri tidak sendirian. Ia bersama dengan seorang laki-laki dari tanah massemrepulu yang bernama Tandu Mataranna Enrekang Laki Barakkanna Puang. Lelaki ini mengatakan kepada prajurit bahwa tidak ada yang dapat menyentuh sang puteri jika ia masih hidup. Mel9ihat badan lelaki yang besar menbuat prajurit mundur. Keadaan ini disampaikan kepada sang raja. Raja mengutus penghulu bnersama prajurit dari tanah soppeng. Penghulu diutus sebagai penegah antara prajurit dan lelaki dari tanah massemrenpulu. Setelah melalui perundingan panajang, penghulu berhasil menbuat kesepakatan. Sang puteri akn di bawa ke Soppeng tetapi prajurit berjanji akan mengembalikan puteri dalam keadaan bernyawa. Namun, salah satu dari prajutit ingkar janji. Ia menebas badan puteri dari belakang, saat penghulu, dan Tandu Mataranna berunding. Sekejab, Tandu Mataranna menjadi marah dan membabi buta semua prajurit yang ada di tempat itu.

Sementara badan sang puteri terbagi dua. Bagian pusat hingga kepala jatuh dan terbawa arus sungai Mata Allo. Konon, arus sungai ini tidak melewati soppeng karena merupakan tempat kelahiran sang puteri. Sedangkan bagian bawa pusat dalam keadaan terlentang dan tetap berada di daerah tersebut. Bagian bawa inilah yang menjadi gunung nona di Anggeraja.
mitos masyarakat setempat menjadikan gunung nona dan gunung bambapuang sebagai tempat pertapaan bagi pasangan yang akan menikah. Laki-laki bertapa selama tujuh hari tujuh malam di gunung bambapuang dan perempuan di gunung nona. Konon, pasangan ini akan memperoleh petunjuk tentang pinagan mereka masing-masing.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: